Sesumbar Obama, Ancam Pakistan
Barack Obama menyebut Afghanistan dan Pakistan sebagai tempat yang tepat untuk menggelar pasukan militer AS. Dengan dalih memerangi al-Qaidah, jika kelak terpilih sebagai Presiden AS, Obama berencana menginvasi Pakistan, tanpa perlu meminta izin. Akankah Obama meniru jejak Bush yang haus perang?
Obral sesumbar dan ancaman untuk melakukan aksi militer di negara orang nampaknya tak hanya monopoli Presiden AS yang berkuasa saat ini, George Walker Bush. Meski masih berstatus “kandidat presiden”, senator asal Illionis, Barack Obama, sudah lancang mengumbar ancaman. Dalam sebuah pidato di Pusat Cendekiawan Internasional Woodrow Wilson, Washington, kandidat presiden berkulit gelap ini berencana menggelar operasi militer di Pakistan untuk menghancurkan kelompok al-Qaidah jika terpilih kelak. “Biarkan saya menjelaskan hal ini. Di sana (Pakistan) menetap para teroris yang tinggal di pegunungan, yang telah membunuh sekitar 3000 warga Amerika. Mereka juga sedang merencanakan serangan lagi. Kami akan menggiatkan intelijen untuk memantau kegiatan para teroris, dan jika Presiden Musharraf tidak melakukan itu, maka kami yang akan beraksi,” ancam Obama dalam pidato yang berlangsung pada hari Rabu (1/8).
Ironisnya, Obama juga menyatakan, operasi militer pasukan AS bisa dilakukan tanpa harus meminta persetujuan pemerintah setempat. Obama mengatakan, pemerintah Jenderal Pervez Musharraf harus lebih serius dalam memerangi kelompok yang dituduh sebagai jaringan teroris pimpinan Osama bin Ladin. Obama juga menekankan, Musharraf harus serius untuk menutup kamp-kamp latihan para teroris, mengusir para pejuang asing dan mencegah kelompok Taliban agar tidak menjadikan Pakistan sebagai ajang untuk melakukan serangan. Jika tidak, ancam Obama, Pakistan akan menghadapi invasi dari pasukan AS dan tidak akan mendapatkan kucuran dana bantuan militer sebesar ratusan juta dolar AS selama ia menjabat sebagai presiden AS kelak.
Obama juga menyentil kegagalan pemerintah AS dalam menangkap pimpinan al-Qaidah Usama bin Ladin pada 2005 saat para pimpinan kelompok tersebut mengadakan pertemuan di Pakistan. Misi tersebut gagal dilaksanakan, setelah pada menit-menit terakhir jelang operasi, pejabat pemerintahan Presiden Bush memutuskan untuk menghentikan operasi dengan alasan sangat berisiko dan bisa merusak hubungan dengan Pakistan. Keputusan ini juga didukung pejabat di kalangan militer dan intelijen AS. Obama menyebut kegagalan ini sebagai “terrible mistake” yang pernah dilakukan intelijen dan tentara AS.
Selain soal Pakistan, Obama juga menyinggung keberadaan tentara AS di Irak. Obama yang lahir dari seorang ibu asli Amerika dan ayah keturunan Kenya, Afrika, menyatakan perang di Irak harus diakhiri. Jika terpilih kelak, pria jebolan Harvard Law School ini akan memindahkan operasi militer AS di Irak dengan menarik pasukan dan memindahkannya ke Afghanistan dan Pakistan. Obama menyebut dua negara ‘calon jajahannya’ itu sebagai “ladang pertempuran yang tepat” untuk melakukan aksi koboi ala rambo. Paling tidak, kata Obama, ia akan mengirim lebih dari dua brigade ke Afghanistan dan meningkatkan bantuan non militer kepada negara bersangkutan. Obama juga mengatakan, akan mengucurkan dana 5 miliar dolar AS untuk program kerjasama intelijen dengan negara-negara yang menjadi sekutu AS dalam memerangi terorisme untuk memberangus jaringan teroris di Indonesia dan Afrika.
Meski sesumbar soal invasi ke Pakistan dan Afghanistan, Obama menyatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir. Pernyataan Obama membantah tuidngan sebagian kalangan yang khawatir dengan rencananya tersebut. “Saya kira ini akan menjadi sebuah kesalahan besar bagi kita menggunakan senjata nuklir dalam keadaan apapun,” tepis Obama kepada Associated Press , Jumat (3/8).
Sebelumnya, Hillary Rodham Clinton, mantan first lady yang juga menjadi kandidat presiden AS menyebut Obama sebagai orang yang “naif” dalam visi kebijakan politik luar negerinya. Pernyataan Hillary disampaikan usai mengadakan debat terbuka antar kandidat presiden. Hillary juga menyindir rencana Obama bertemu Presiden Venezuela, Hugo Chaves, dan Presiden Kuba, Fidel Castro, sebagai “tidak bertanggungjawab dan benar-benar naif”.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri Pakistan, Tasnim Aslam, menyebut secara tidak langsung pernyataan Obama sebagai masalah serius. Tasnim mengatakan, para politisi dan komentator harus memperlihatkan tanggungjawab. “Ini masalah serius yang tidak selayaknya digunakan untuk menambah poin dalam meraih suara pendukung politik,” ujarnya. Bagi Pakistan, isu yang dilontarkan Obama tentu saja sangat sensitif, sebab negara ini baru saja menghadapi masalah serius terkait penyerbuan terhadap dua buah madrasah di komplek Masjid Merah. Saat krisis di Masjid Merah terjadi, Presiden Musharraf dengan tegas menolak operasi militer yang dilakukan tentara asing. Meski dalam keadaan bersitegang dengan kelompok Islam, Musharraf tak mau menggadaikan kedaulatannya untuk AS.
Sementara itu pejabat di Washington menanggapi dingin pernyataan Obama. Juru Bicara Gedung Putih, Tony Snow, menyatakan pemerintah Pakistan sudah berusaha keras untuk memberangus kelompok yang dituduh teroris, yang selama ini dikaitkan dengan keberadaan jaringan al-Qaidah dan Taliban. Selain itu, menurut beberapa pengamat politik, invasi yang dilakukan AS ke Pakistan justru akan membuat kekacauan di negara tersebut dan makin menyuburkan para militan untuk melakukan perlawanan. Sebagian pengamat lain menilai pernyataan Obama sebagai cara untuk meraih dukungan politik dengan memanfaatkan perang melawan terorisme. Upaya ini bisa saja dilakukan Obama untuk menyatakan komitmennya dalam memerangi terorisme.
Jika belum menjadi presiden saja Obama sudah mengancam melakukan operasi militer di negeri orang, maka ada alasan bagi para aktivis perang di AS untuk menolak habis-habisan senator dari Partai Demokrat tersebut. Jika terpilih dan Obama merealisasikan rencananya, AS tak ubahnya keluar dari mulut harimau, jatuh ke mulut buaya!
Sumber: sabili
Barack Obama menyebut Afghanistan dan Pakistan sebagai tempat yang tepat untuk menggelar pasukan militer AS. Dengan dalih memerangi al-Qaidah, jika kelak terpilih sebagai Presiden AS, Obama berencana menginvasi Pakistan, tanpa perlu meminta izin. Akankah Obama meniru jejak Bush yang haus perang?
Obral sesumbar dan ancaman untuk melakukan aksi militer di negara orang nampaknya tak hanya monopoli Presiden AS yang berkuasa saat ini, George Walker Bush. Meski masih berstatus “kandidat presiden”, senator asal Illionis, Barack Obama, sudah lancang mengumbar ancaman. Dalam sebuah pidato di Pusat Cendekiawan Internasional Woodrow Wilson, Washington, kandidat presiden berkulit gelap ini berencana menggelar operasi militer di Pakistan untuk menghancurkan kelompok al-Qaidah jika terpilih kelak. “Biarkan saya menjelaskan hal ini. Di sana (Pakistan) menetap para teroris yang tinggal di pegunungan, yang telah membunuh sekitar 3000 warga Amerika. Mereka juga sedang merencanakan serangan lagi. Kami akan menggiatkan intelijen untuk memantau kegiatan para teroris, dan jika Presiden Musharraf tidak melakukan itu, maka kami yang akan beraksi,” ancam Obama dalam pidato yang berlangsung pada hari Rabu (1/8).
Ironisnya, Obama juga menyatakan, operasi militer pasukan AS bisa dilakukan tanpa harus meminta persetujuan pemerintah setempat. Obama mengatakan, pemerintah Jenderal Pervez Musharraf harus lebih serius dalam memerangi kelompok yang dituduh sebagai jaringan teroris pimpinan Osama bin Ladin. Obama juga menekankan, Musharraf harus serius untuk menutup kamp-kamp latihan para teroris, mengusir para pejuang asing dan mencegah kelompok Taliban agar tidak menjadikan Pakistan sebagai ajang untuk melakukan serangan. Jika tidak, ancam Obama, Pakistan akan menghadapi invasi dari pasukan AS dan tidak akan mendapatkan kucuran dana bantuan militer sebesar ratusan juta dolar AS selama ia menjabat sebagai presiden AS kelak.
Obama juga menyentil kegagalan pemerintah AS dalam menangkap pimpinan al-Qaidah Usama bin Ladin pada 2005 saat para pimpinan kelompok tersebut mengadakan pertemuan di Pakistan. Misi tersebut gagal dilaksanakan, setelah pada menit-menit terakhir jelang operasi, pejabat pemerintahan Presiden Bush memutuskan untuk menghentikan operasi dengan alasan sangat berisiko dan bisa merusak hubungan dengan Pakistan. Keputusan ini juga didukung pejabat di kalangan militer dan intelijen AS. Obama menyebut kegagalan ini sebagai “terrible mistake” yang pernah dilakukan intelijen dan tentara AS.
Selain soal Pakistan, Obama juga menyinggung keberadaan tentara AS di Irak. Obama yang lahir dari seorang ibu asli Amerika dan ayah keturunan Kenya, Afrika, menyatakan perang di Irak harus diakhiri. Jika terpilih kelak, pria jebolan Harvard Law School ini akan memindahkan operasi militer AS di Irak dengan menarik pasukan dan memindahkannya ke Afghanistan dan Pakistan. Obama menyebut dua negara ‘calon jajahannya’ itu sebagai “ladang pertempuran yang tepat” untuk melakukan aksi koboi ala rambo. Paling tidak, kata Obama, ia akan mengirim lebih dari dua brigade ke Afghanistan dan meningkatkan bantuan non militer kepada negara bersangkutan. Obama juga mengatakan, akan mengucurkan dana 5 miliar dolar AS untuk program kerjasama intelijen dengan negara-negara yang menjadi sekutu AS dalam memerangi terorisme untuk memberangus jaringan teroris di Indonesia dan Afrika.
Meski sesumbar soal invasi ke Pakistan dan Afghanistan, Obama menyatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir. Pernyataan Obama membantah tuidngan sebagian kalangan yang khawatir dengan rencananya tersebut. “Saya kira ini akan menjadi sebuah kesalahan besar bagi kita menggunakan senjata nuklir dalam keadaan apapun,” tepis Obama kepada Associated Press , Jumat (3/8).
Sebelumnya, Hillary Rodham Clinton, mantan first lady yang juga menjadi kandidat presiden AS menyebut Obama sebagai orang yang “naif” dalam visi kebijakan politik luar negerinya. Pernyataan Hillary disampaikan usai mengadakan debat terbuka antar kandidat presiden. Hillary juga menyindir rencana Obama bertemu Presiden Venezuela, Hugo Chaves, dan Presiden Kuba, Fidel Castro, sebagai “tidak bertanggungjawab dan benar-benar naif”.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri Pakistan, Tasnim Aslam, menyebut secara tidak langsung pernyataan Obama sebagai masalah serius. Tasnim mengatakan, para politisi dan komentator harus memperlihatkan tanggungjawab. “Ini masalah serius yang tidak selayaknya digunakan untuk menambah poin dalam meraih suara pendukung politik,” ujarnya. Bagi Pakistan, isu yang dilontarkan Obama tentu saja sangat sensitif, sebab negara ini baru saja menghadapi masalah serius terkait penyerbuan terhadap dua buah madrasah di komplek Masjid Merah. Saat krisis di Masjid Merah terjadi, Presiden Musharraf dengan tegas menolak operasi militer yang dilakukan tentara asing. Meski dalam keadaan bersitegang dengan kelompok Islam, Musharraf tak mau menggadaikan kedaulatannya untuk AS.
Sementara itu pejabat di Washington menanggapi dingin pernyataan Obama. Juru Bicara Gedung Putih, Tony Snow, menyatakan pemerintah Pakistan sudah berusaha keras untuk memberangus kelompok yang dituduh teroris, yang selama ini dikaitkan dengan keberadaan jaringan al-Qaidah dan Taliban. Selain itu, menurut beberapa pengamat politik, invasi yang dilakukan AS ke Pakistan justru akan membuat kekacauan di negara tersebut dan makin menyuburkan para militan untuk melakukan perlawanan. Sebagian pengamat lain menilai pernyataan Obama sebagai cara untuk meraih dukungan politik dengan memanfaatkan perang melawan terorisme. Upaya ini bisa saja dilakukan Obama untuk menyatakan komitmennya dalam memerangi terorisme.
Jika belum menjadi presiden saja Obama sudah mengancam melakukan operasi militer di negeri orang, maka ada alasan bagi para aktivis perang di AS untuk menolak habis-habisan senator dari Partai Demokrat tersebut. Jika terpilih dan Obama merealisasikan rencananya, AS tak ubahnya keluar dari mulut harimau, jatuh ke mulut buaya!
Sumber: sabili